Minggu, 19 Juni 2011

Kontak

Himpunan Mahasiswa islam Cabang Samarinda
Lembaga Pers Mahasiswa Islam

Alamat Redaksi :
Jalan Angklung A/IA Kompleks Prevab Segiri, Samarinda Kalimantan Timur

Contact Person:

Nama:NurKholis
HP:085250017570
Nama:Wahyuni Nur Fitriah
HP:085250343934
Nama:Yuli Agus Lestari
HP:081346434020
Nama:Indrayani
HP:08125306154
Nama:Hamri Efendi
HP:085250461586
Nama:Edi
HP:085250170088
Nama:Abdul Salam
HP:-
Nama:Kaspul Muarif
HP:-
Nama:Fauziah
HP:081236241460
Nama:Winda Ika Rusmaya
HP:-
Nama:Ghina
HP:-

Sabtu, 11 Juni 2011

Pendirian dan Pemekaran Komisariat

Berdasarkan pasal 40 ART HMI tentang pendirian dan pemekaran komisariat, terdapat beberapa point yang harus dipenuhi untuk pendirian komisariat, yaitu:

A. syarat pendirian komisariat

1. kondisi anggota biasa

- minimal 25 orang untuk komisariat persiapan

- minimal 50 orang untuk komisariat penuh

- berasal dari satu perguruan tinggi atau satu/beberapa fakultas dari satu perguruan tinggi

2. melengkapi dokumen-dokumen pendukung

- data jumlah anggota

- kondisi objektif

- potensi perkembangan HMI diwilayah pendirian komisariat

3. menyampaikan usulan secara tertulis kepada pengurus cabang

B. pertimbangan pengurus cabang dalam mengesahkan pemekaran komisariat penuh

1. meneliti keaslian dokumen pendukung yang disampaikan bersamaan dengan usulan pendirian komisariat.

2. mempertimbangkan potensi dinamika komisariat penuh hasil pemekaran

3. daya dukung fakultas/perguruan tinggi temppat kdudukan komisariat-komisariat hasil pemekaran

4. potensi keanggotaan

5. potensi pembiayaan untuk menunjang aktifitas koasil pemekaran komisariat

6. potensi-potensi lainnya yang menunjang kesinambungan komisariat

C. kewajiban komisariat persiapan selama 1 tahun setelah disahkan

1. mempunyai minimal 50 anggota biasa

2. melaksanakan minimal 1 kali Latihan Kader I

3. melaksanakan 2 kali Maperca

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (sirah) Rasulullah SAW yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi'raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang isra’: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18: "Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."

Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat resah, seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Quraisy terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.

Dalam sitausi seperti inilah, "rahmah" Allah yang meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. "Warahmati wasi'at kulla syai'i", demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk "berjalan-jalan" (saraa) menelusuri napak tilas "perjuangan" para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawa serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di "Sidartul Muntaha". Sungguh sebuah "penyejuk" yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali "menenangkan" jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan.

Kejadian-kejadian sekitar isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkan hatinya dengan air zam-zam, diisinya dengan iman dan hikmah. Kemudian didatangkan buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW Sholat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Berkata malaikat Jibril, "Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau."

Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit pertama.Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat Sholat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam. Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga buah gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.

Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah Sholat wajib. Mulanya diwajibkan Sholat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku."

Selama ini kita sering mendengar cerita tentang Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, bahkan mungkin kita sudah hafal tentang alur ceritanya. Namun, apa hikmah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah itu? Apakah kita hanya terpesona dengan cerita itu, mengingat bahwa kita adalah umat Nabi Muhammad SAW?

Agaknya yang lebih wajar untuk dipertanyakan, bukannya bagaimana Isra’ Mi’raj, tetapi mengapa Isra’ Mi’raj terjadi ? Jawaban pertanyaan ini sebagaimana kita lihat pada ayat 78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk menerima mandat melaksanakan Sholat Lima waktu. Jadi, Sholat inilah yang menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj tersebut.

Sholat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual individual hubungannya dengan Allah. Sholat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun, Al – Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa Sholat yang dilakukan dengan khusyu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.

Sholat adalah satu-satunya kewajiban dan menjadi kebutuhan umat Islam yang diturunkan langsung oleh Allah SWT. Hal itu menunjukkan betapa tingginya posisi ibadah Sholat. Wajar, kalau kemudian Sholat, sebagaimana tersebut dalam sejumlah hadis Nabi SAW, merupakan “tiang agama”, akan runtuh keislaman seseorang jika meninggalkan atau tidak mendirikan Sholat. Sebab, Sholat merupakan penentu diterima atau tidaknya amal saleh seseorang serta menjadi ibadah (ritual) paling utama dalam Islam. Sholat juga merupakan amal perbuatan yang pertama kali dihisab di akhirat dan menentukan baik-buruknya amal seseorang.

Sholat merupakan ibadah yang tidak boleh ditinggalkan, pembeda (criterium) antara umat Islam dan kafirin, penentu kebaikan dan keburukan amal seseorang (QS. 29: 45, 70: 19-23), dan merupakan manifestasi inti akidah Islam (tauhid).

Pada bulan Rajab, khususnya momentum peringatan Isra’ Mi’raj, seyogianya kita mengevaluasi Sholat kita selama ini: sudahkah dilaksanakan sesuai sunnah Rasul? Sudah pahamkah kita akan makna bacaan dan gerakan Sholat? Sudah khusyu’ kah Sholat kita selama ini? Berdampakkah Sholat kita pada perilaku keseharian?

Selain itu, dalam Alquran setidaknya disebutkan tiga golongan mushali atau pelaku Sholat. Yaitu, : khasyi’un, sahun, dan yuraa’un. Kita bisa melakukan introspeksi, termasuk kelompok manakah kita?

Golongan khasyi’un (adalah mereka yang mendirikan Sholat dengan sungguh-sungguh (khusyu’), mengetahui ilmu Sholat, ikhlas dalam mendirikannya, menjadikan Sholat sebagai kebutuhan, serta merealisasikan apa yang diucapkannya dalam Sholat dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, Sholat golongan ini berpengaruh terhadap perilakunya, yaitu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS. 29: 45).

Golongan sahun (QS. 107:5) adalah mereka yang melakukan Sholat dengan lalai, sering (atau sengaja) lupa karena tidak merasakannya sebagai kebutuhan, dan menganggap Sholat sebagai beban.

Sedangkan golongan yuraa’un (QS. 107: 6) adalah mereka yang melakukan Sholat dengan niat yang tidak ikhlas, ibadah Sholatnya ternodai perasaan atau keinginan dipuji atau dilihat orang lain, motivasi Sholatnya bukan kesadaran.

Dari tiga golongan yang telah disebutkan diatas, kiranya masih bisa diberikan apresiasi karena masih melaksanakan sholat. Namun dalam kenyataan sehari-hari, ada yang tidak melaksanakan sholat sama sekali. Masuk ke golongan manakah orang-orang seperti ini? Ao’ Ach Gelap. Hehehehe.....

Marilah kita sama-sama introspeksi diri masing-masing.

Sudahkah Kita Sholat Hari Ini...????